Sudah Punya, Tapi Enggan Bayar Utang Kisahnya Memilukan

Pro-rahasia.com, Berbicara terkait dengan hutang , utang pitutang memang perkara yang remeh tapi sulit.Sekarang yang islam berkata tanyakan kepada anda , Apa reaksi kalian saat ada teman anda yang hendak berhutang kepada anda ? Membutuhkan uang secepatnya kepada kita. Hmm tapi kita tahu dia pernah meminjam hutang sebelumnya dan belum mengembalikan uang tersebut hingga sekarang.

Masa kita mau meminjamkan uang lagi kepada mereka.Tentu ini menjadi perkara yang gelap karena jika anda tidak mengutangi pasti teman anda akan judge anda sebagai orang yang pelit dan sebaliknya jika anda mengutangi maka menjadi perkara yang sangat berat jika anda ingin menagih hak anda tersbut.Lantas bagaimana solusinya ? Oke simak penjelasanya di bawah ini.

Kalau Masih Mampu Mending Jangan Utang , Dan Untuk Yang Mengutangi Pikir Lagi Sebelum Memberinya  

Azab kubur juga akan dirasakan oleh orang yang berutang dan belum sempat melunasinya. Transaksi utang – piutang dalam agama Islam diperbolehkan, asalkan tidak menimbulkan riba. Persoalan meminjam uang kepada teman atau saudara terdekat ketika dalam kondisi tidak punya uang ialah persoalan yang mudah, namun terkadang untuk membayar dan melunasi utang menjadi perkara yang sulit.

Oleh karena itu, agama mensyariatkan kepada orang lslam agar memprioritaskan utang lunas terlebih dahulu sebelum membeli kebutuhan yang lain. Begitu pun dengan Rasulullah Saw, beliau memerintahkan umatnya untuk segera melunasi utang ketika memiliki harta,
berdoa dari belitan utang yang mencekik, dan melunasi utang si mayit terlebih dahulu sebelum warisan dibagi.

Perkara utang dalam Islam menjadi perkara yang berat sebab jika gagal membayar utang, maka akan menimbulkan efek celaka pada pelakunya. Apabila ada seseorang meninggal dunia, sedangkan ia masih memiliki tanggungan utang, kemudian kerabat-kerabatnya tidak ada satu pun yang

sanggup melunasinya, maka ia akan diazab dalam kubur sampai orang yang memberikan utang itu ikhlas kepadanya. Dari Jabir bin Abdullah Ra, ia berkata, “Ada seorang laki- laki meninggal dunia, lalu kami memandikan, mengafani, dan memberinya wewangian. Kemudian,kamiletakkan jenazahnya untuk Rasulullah Saw. di tempat biasa diletakkan, yaitu di makam. Selanjutnya, kami pun memberi tahu Rasulullah Saw. untuk menyalatkannya.

Lalu, beliau datang bersama kami kemudian melangkah satu langkah dan bersabda, Barangkali kawan kalian ini mempunyai utang?’ Mereka menjawab, “Ya, yaitu sebanyak dua dinar. Maka, beliau pun mundur (tidak jadi menyalatkannya). Beliau berkata, “Shalatkanlah teman kalian ini! Lalu, ada seseorang di antara kami yang bernama Abu Qatadah berkata,

‘Wahai Rasulullah, utangnya yang dua dinar itu menjadi tanggunganku’ Kemudian, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Utang dua dinar itu sekarang menjadi tanggunganmu dan dibayar dari hartamu dan mayit itu telah terlepas dari dua dinar tersebut. Abu Qatadah menjawab,
Rasulullah Saw. pun menyalatkannya. Kemudian, Ya. Lalu, beliau apabila setiap kali bertemu dengan Abu Qatadah

beliau bersabda (dalam sebuah riwayat, kemudian beliau menemuinya pada keesokan harinya seraya bertanya), Apa yang dilakukan oleh uang dua dinar itu?”Abu Qatadah berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya ia baru saja meninggal dunia kemarin, sehingga ia menjadi akhir dari itu (Di dalam riwayat yang lain disebutkan, Kemudian beliau menemuinya pada keesokan harinya seraya bertanya, “Apa yang telah dilakukan oleh uang dua dinar itu?)’ la menjawab, “Aku telah melunasi utangnya yang dua dinar itu wahai, Rasulullah!” Lalu beliau berkata, “Sekarang, kulitnya telah menjadi dingin (dari azab) (HR. Imam Ahmad)

Hadits tersebut tentunya menjadi peringatan keras bagi kita semua. Sejatinya, persoalan mati menjadi perkara yang menyenangkan (meskipun hal itu menjadikesedihanyangamat dalam bagi orang yang ditinggalkannya), sebab kehidupan di kubur lebih menyenangkan daripada seluruh kenikmatan alam yang ada di dunia. Akan tetapi justru persoalan mati menjadi perkara yang melahirkan kesedihan yang amat dalam karena masih banyak hal yang belum diselesaikan semasa hidupnya, terutama utang piutang. Salah satu potensi yang dapat melahirkan utang dan seseorang terperangkap dalam lingkarannya adalah kesulitan

ekonomi. Memang tidak bisa dipungkiri, kondisi yang semakin rumit rentan menjerumuskan akidah umat Islam. Bagi yang imannya kuat dan kokoh, ia masih memiliki kesabaran dan seraya istiqamah terus berusaha mencari rezeki Allah swt. Namun sebaliknya, bagi ia yang imannya mudah goyah dan gampang diombang-ambingkan oleh gelombang krisis ekonomi, lalu dengan mudahnya pula ia melakukan tindakan yang pada akhirnya mencelakakan diri sendiri.Terlebih krisis ekonomi global yang melanda bangsa, dan

sampai saat ini belum ditemukan resep yang mujarab oleh pemerintah. Sehingga jutaan orang berbondong-bondong membawa selembar ijazah plus transkrip nilai dalam rangka mencari pekerjaan. Sementara di tengah hiruk-pikuk orang yang berpendidikan mencari kerja, ada ribuan, bahkan jutaan, karyawan di-PHK lantaran perusahaan tidak mampu mem bayar upahnya. Akhirnya, kondisi ini melahirkan jutaan orang pengangguran yang tidak jelas masa depannya, lalu di antaramereka adayang terpaksa meminjamuang ke bankdan rentenir agar bisa menyambung hidup. Akan tetapi, kebanyakan dari

mereka dililit utang sampai dibawa mati. Na udzubillah. Tentunya masalah tersebut akan bertambah panjang apabila seseorang berutang kepada orang lain, namun kerap kali ia lupa dan malas melunasi utang-utang tersebut meskipun nilai pinjamannya sangat kecil. Sementara, orang yang mengutangi memiliki rasa malu yang tinggi, meskipun orang tersebut sedang membutuhkannya, namun ia merasa sungkan untuk menagihnya. Apabila kondisi seperti ini dilakukan berulang-ulang kali kepada banyak orang, maka betapa

meruginya ia. Sebab, satu utang bisa menimbulkan masalah di alam kubur dan hari pembalasan. Maka tentunya, malaikat Munkar dan Nakir sangat geram dan menyiksanya tanpa ampunan kepada orang-orang yang enggan membayar utang sampai dibawa mati. Dalam sebuah riwayat yang diceritakan oleh Muhammad bin Jahsyin, a berkata, “Rasulullah Saw. pernah duduk di sekitar beberapa jenazah, lalu beliau mengangkat kepalanya

ke arah langit, kemudian menundukkan pandangannya, beliau meletakkan tangan pada keningnya seraya bersabda, ‘Subhanallah, subhanallah, betapa keras ancaman yang di- turunkan. Kami menyaksikan dan kami hanya diam hingga keesokan harinya, aku bertanya kepada Rasulullah saw., Rasulullah, ancaman keras apa yang telah turun?’Beliau men- jawab, “Tentang utang, demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang itu gugur di jalan Allah, kemudian hidup lagi, lalu gugur lagi, dan kemudian hidup lagi, lalu gugur lagi sedangkan ia dalam keadaan menanggung

utang, maka niscaya ia tidak akan masuk surga hingga utangnya dilunasi” (HR. Nasa’i, Thabrani, dan Hakim). Maka dari itu, jelaslah bagi kita bahwa utang kepada siapa pun haruslah diprioritaskan pembayarannya daripada perkara muamalah yang lain. Apabila sampai kematian menjemput namun utang tersebut belum juga dilunasi, maka bersiap- siaplah menerima risiko, pahala yang dikumpulkan selama hidup di dunia akan diambil oleh orang yang mengutangi.Dan, apabila ternyata hal itu masih juga belum bisa menutupinya, maka semua dosa orang yang memberikan utang menjadi

tanggungannya di akhirat. Di akhir tulisan tentang perkara utang ini, semoga perjalanan hidup kita di dunia senantiasa terhindar dari segala macam tanggungan-tanggungan, baik yang berhubungan dengan Allah Swt., maupun yang berhubungan dengan sesama manusia. Semoga dengan harapan ini pula, kiranya Allah yang Maha Pengampun berkenan menyatukan seluruh umat manusia dalam kebenaran agama-Nya dan selalu memberi kekuatan kepada kita semua untuk menggapai keridhaan-Nya. Amin ya rabbal alamin.

Baca Juga (Apakah Jin & Mausia Bisa Melakukan Hubungan Se*exual?)

Sudah Punya, Tapi Enggan Bayar Utang Kisahnya Memilukan | prorahasia | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *